BIONIX Ajak Peserta Ciptakan Inovasi Berdampak

SURABAYA, DEPARTEMEN SISTEM INFORMASI ITS - Diikuti lebih dari 800 peserta, olimpiade bisnis dan teknologi informasi yang dikemas dalam Bionix 2016 kini menampilkan wajah baru. Tak hanya menantang peserta dalam bidang keilmuan pemrograman saja, lomba besutan Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini hadir untuk mengajak siswa SMA menyelesaikan permasalahan sehari-hari masyarakat Indonesia dengan ide teknologinya.

Hadir di enam region, tahun ini Bionix mulai melebarkan sayapnya ke tanah Sumatera dan Kalimantan. Tak tanggung-tanggung, Bionix 2016 berhasil merangkul 934 tim dengan 861 tim terkonfirmasi. Mengusung tema "Transformation", Bionix mulai menata wajah barunya untuk semakin mendapat tempat khusus di hati siswa Sekolah Menangah Atas (SMA).

"Kita ingin mereka tak hanya mengerti ilmunya. Tapi kita juga berharap mereka mampu menerapkannya untuk membawa dampak besar pemanfaatan teknologi informasi bagi masyarakat. Bahkan kalau bisa dalam skala internasional," ujar Ahsanul Khuluq Saifullah selaku ketua panitia.

Untuk sampai ke final, tambahnya, peserta diharuskan melewati beberapa tahap seleksi yang cukup panjang. Dari 861 tim, tercatat hanya 30 tim yang berkesempatan datang ke ITS untuk mengikuti babak semifinal. Mereka diharuskan menyelesaikan study case terkait pemrograman.

Berlanjut pada tahap final, peserta yang lolos ditantang untuk menciptakan produk nyata melalui Business Model Canvas sekaligus membuat mesin kasir sederhananya menggunakan program Java sebagai program integrasinya. "Di sini peserta diajak untuk membuat produk nyata yang sekiranya mampu menyelesaikan permasalahan di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia," ungkap Ahsan.

Dirinya menambahkan bahwa teknologi informasi yang aplikatif saat ini tengah menjadi soroton utama bagi Bionix. Pasalnya output yang dihasilkan oleh peserta diharapkan benar-benar mampu berdampak bagi masyarakat Indonesia, utamanya Surabaya.

Tim Cepot Menang

Adalah Raden Rafi Sageri dan Ariq Naufal Satria yang tergabung dalam Tim Cepot berhasil menggondol juara satu. Tim yang berasal dari SMA Negeri 1 Bogor ini berhasil menyabet juara dengan menawarkan solusi bagi ruangan sempit. Cepot menginovasi lemari unik yang mampu berintegrasi dengan kasur dan sofa.

"Sebelumnya tidak kepikiran membuat ini karena produk yang kami siapkan sebenarnya berupa aplikasi. Tapi karena produk yang diminta adalah produk fisik jadi terciptalah lemari ini," jelas Rafi.

Sempat mengalami kesulitan saat pemrograman Java, mereka mengaku tidak menyangka bisa menjadi juara pertama sekaligus memperoleh freepass Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Departemen Sistem Informasi ITS 2017. Ditanya mengenai freepass tersebut, keduanya kompak masih bingung menentukan pilihan. "Belum tahu kampusnya mau di mana, tapi yang pasti di bidang teknologi informasi," pungkas Naufal. (arn/ao)

Sumber : www.its.ac.id


Lima Tips Bangun Startup ala GO-JEK

SURABAYA, MARVELL CITY MALL - Chief of Product Officer (CPO) aplikasi Go-Jek, Rama Notowidigdo memberikan rahasianya dalam membangun startup. Hal ini disampaikan dalam rangkaian talkshow yang diselenggarakan dalam Information System Expo (ISE) 2016 oleh Departemen Sistem Informasi ITS di Marvell City Mall, Minggu (27/11).

Kepada puluhan peserta yang hadir, Rama mengatakan hal pertama yang harus dimiliki sebelum membangun startup adalah ide. Menurutnya, ide yang baik untuk membangun startup adalah ide yang memiliki eksekusi yang baik. 

''Yang membedakan ide yang baik dan ide yang buruk terletak di eksekusinya. Sehebat apapun ide yang kalian miliki, kalau tidak bisa dieksekusi akan percuma," ujar Rama.

Hal kedua yang harus dimiliki, kata Rama, adalah ilmu tentang bidang yang ingin ditelusuri. Rama memberi contoh, misalnya seseorang ingin membangun startup bidang pertanian, maka developer harus memiliki koneksi dengan petani, harus mengetahui jadwal pendistribusian, jumlah order, serta proses kompleks lainnya.

"Yang penting developer mempunyai validasi permasalahan, memiliki validasi bisnis proses, serta mempunyai validasi konsep yang ingin dibangun," jelas peraih Magister Administrasi Bisnis di Universitas Saint Louis Amerika Serikat itu.

Selanjutnya yang tak kalah penting untuk menjadi enterpreneur yang sukses, kata Rama adalah harus fokus dan tidak berpikir negatif tentang kegagalan. Menurutnya, entrepreneur yang baik adalah yang tidak memikirkan 2 persen dari semua permasalahan, yaitu berupa kegagalan. 

''Entrepreneur yang baik harus fokus pada 98 persen permasalahan, seperti fitur-fitur maupun teknologi yang diperlukan untuk membangun bisnisnya," ujar pria yang telah lama berkecimpung di dunia entrepreneur ini.

Selain itu ia mengaku, orang yang ingin membangun startup harus menghindari ketergantungan dalam berbisnis. Ketergantungan baginya akan membuat ruang gerak terbatas dan bisnis pun menjadi sulit untuk dikembangkan.

Namun dari semuanya, hal paling penting untuk dapat membangun startup dan terjun ke dunia entrepreneur adalah keberanian. Keberanian yang dimaksud harus dilandaskan kepintaran, yakni terus belajar dan tidak jatuh dalam kesalahan yang sama. 

''Satu hal yang harus diingat, kegagalan itu hal yang biasa dalam berbisnis. Namun reaksi terhadap kegagalan itu yang membedakan seseorang. Gagal boleh, namun jangan sampai jatuh dalam lubang yang sama'' tutupnya menyemangati. (io14/mis)

Sumber : www.its.ac.id


Tujuh Tahun ITS Konsisten Bina Siswa MA

SURABAYA, INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kian tegas mengokohkan Tridharma Perguruan Tinggi melalui berbagai bentuk pengabdian masyarakat. Salah satunya melalui Program Pendidikan Terapan Bidang Teknologi Informasi (Prodistik) untuk 28 Madrasah Aliyah (MA) di Jawa Timur dan Kalimantan. Kegiatan ini sendiri sudah terlaksana selama tujuh tahun.

Dalam program ini, ITS membantu mendidik siswa-siswi MA untuk menguasai bidang robotika, desain grafis, dan sinematografi selama lima semester," ungkap Bekti Cahyo Hidayanto SSi MKom, dosen pendamping Prodistik.

Bekti, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa ITS sengaja menyasar pada sekolah-sekolah di daerah terpencil yang kekurangan sumber daya pendidik. "Sebagai bukti bahwa ITS mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat" lanjut dosen Departemen Sistem Informasi ITS ini. 

"Kami para dosen pengajar datang ke sekolah-sekolah tersebut untuk membina guru-guru serta mengadakan kuliah tamu untuk para siswa. Hal tersebut konsisten kami lakukan selama tujuh tahun ini," terang Bekti. Lelaki berkacamata yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Infrastruktur dan Keamanan Teknologi Informasi pada Departemen SIstem Informasi ITS ini pun menambahkan, di akhir program para siswa akan diberi tugas akhir serta mendapat sertifikat kelulusan.

Untuk mengikuti program ini, sekolah-sekolah tersebut mengajukan proposal pada pihak ITS terlebih dahiulu. Selanjutnya tim Prodistik akan melakukan kunjungan untuk menentukan apakah sarana prasarana di sekolah tersebut mendukung program ini agar dapat berjalan maksimal. Seperti sarana komputer, ketersediaan jaringan internet, dan lain-lain.

"Tiap tahunnya kami menerima tiga sekolah binaan baru" ujar Kepala Laboratorium Pemrograman Sistem Informasi tersebut. Tahun ini, sekolah binaan yang resmi bergabung adalah MA Islamiyah Senori Tuban, SMA Muhammadiyah 1 Gresik, serta MAN Model Palangkaraya.

Salah satu hal yang menarik dari program ini adalah diadakannya Prodistik Competition for Madrasah in IT (Procommit) tiap tahunnya. Procommit merupakan ajang adu kreasi dari ilmu yang telah didapatkan siswa selama program pelatihan. 

"Tahun ini Procommit membawahi enam jenis lomba yaitu excel programming, desain batik digital, film pendek, animasi interaktif, robot cerdas, dan sayembara logo Prodistik. Keseluruhannya diiikuti oleh 294 tim dari 28 sekolah," tutup Bekti yang juga menjadi juri Sayembara Logo Prodistik Procommit 2016 ini. (io1/hil)

Sumber : www.its.ac.id

 


Arti Penting Sebuah Status : Cerita Visitasi Assessor Akreditasi BAN-PT Ke PMSI JSI ITS

SURABAYA, JURUSAN SISTEM INFORMASI ITS – Sedang bimbang untuk menentukan tempat studi lanjut? Sudah menemukan Program Studi (Prodi) yang sesuai dengan keinginan hati, namun ternyata banyak pilihan diantara sekian banyak institusi pendidikan tinggi yang menawarkan Prodi yang sejenis? Sebagai ilustrasi, diantara perguruan tinggi A atau B atau bahkan C yang menjadi institusi-institusi pendidikan tinggi yang menjadi pilihan, diantara ketiganya manakah yang akan kita pilih?

Berbagai hal memang bisa menjadi pertimbangan, namun satu hal yang akan memudahkan pengambilan keputusan untuk ilustrasi diatas tentu saja dengan melihat status peringkat akreditasi Prodi yang hendak kita pilih, apakah termasuk dalam peringkat A (bagus), B (baik) ataukah C (cukup)?

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi). Akreditasi sebagai suatu bentuk standardisasi sangat diperlukan untuk ukuran tentang mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi harus bisa meningkatkan mutu dan daya saing terhadap lulusannya dan dapat menjamin tentang proses belajar mengajar yang dilaksanakannya. Sehingga benar bahwasanya akreditasi akan menentukan mutu dan kualitas dari pendidikan, dalam hal ini adalah akreditasi yang diperoleh dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT) sebagai satu-satunya badan akreditasi yang diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia saat ini.

Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan akreditasi terhadap pengelolaan dan hasil pendidikan tinggi, BAN-PT melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap keseluruhan aspek yang dijalankan oleh suatu institusi pendidikan tinggi.

Dan dalam pelaksanaannya, mewakili BAN-PT dalam penilaian Prodi, kegiatan akreditasi ini dilakukan oleh assessor yang terdiri dari tenaga pakar pada bidang ilmu, bidang studi, profesi, dan atau praktisi melalui dua tahap penilaian yaitu desk evaluation untuk penilaian terhadap Borang dan atau portfolio yang disampaikan beserta lampiran-lampirannya serta visitasi yang berupa penilaian di lapangan untuk validasi dan verifikasi hasil desk evaluation tersebut.

Hasil penilaian akreditasi akan menjadi acuan untuk memberikan informasi tentang sudah siapnya suatu instansi perguruan tinggi tersebut dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sesuai standarisasi yang diberikan oleh pemerintah (dalam hal ini Kemendikbud) dalam tahap proses pendidikan untuk daya saing secara global di masa mendatang. Sehingga, saat akreditasi menjadi sebuah dasar dan patokan untuk memilih sebuah institusi pendidikan, maka akreditasi ini pun memiliki arti yang begitu penting.

Menganggap betapa pentingnya akreditasi ini, Prodi Magister Sistem Informasi (PMSI) yang kini di bawah naungan Jurusan Sistem Informasi (JSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berusaha untuk all out. Sesaat setelah dokumen Borang diserahkan ke BAN-PT sekitar bulan Oktober 2016 lalu, hingga mendapat kepastian untuk jadwal visitasi assessor pada bulan November 2016, persiapan tak kenal henti dilakukan oleh Prodi yang baru berdiri sendiri lepas dari yang semula hanyalah Bidang Keahlian pada Prodi Magister Teknik Informatika ITS tersebut. Ketua PMSI JSI ITS, Dr Apol Pribadi Subriadi ST MT memimpin langsung pembentukan tim kerja beranggotakan para dosen yang menjadi person in charge (PIC) setiap standar penilaian dan para tenaga kependidikan yang menyiapkan dokumen-dokumen sebagai bukti fisik penilaiannya.

Dan hari visitasi itupun tiba. Kamis (17/11/2016), dua orang assessor BAN-PT berkunjung langsung ke PMSI JSI ITS. Adalah Prof Dr Ing Ir Iping Supriana Suwardi DEA dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Dr Indra Budi SKom MKom dari Universitas Indonesia (UI) yang ditugaskan oleh BAN-PT untuk melakukan penilaian validasi dan verifikasi.

Dimulai dari kunjungan ke Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS sebagai Fakultas tempat PMSI JSI bernaung. Dua orang assessor BAN-PT tersebut diterima langsung oleh Dr Agus Zaenal Arifin SKom MKom selaku Dekan, Erma Suryani ST MT PhD selaku Wakil Dekan dan Drs Ec Mochammad Takrip selaku Kepala Bagian Tata Usaha. Mewakili JSI ITS sebagai Jurusan tempat PMSI berada, Dr Ir Aris Tjahyanto MKom selaku Ketua Jurusan (Kajur) dan Dr Apol Pribadi Subriadi ST MT selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) ikut pula menyambut bersama Nisfu Asrul Sani SKom MSc selaku Ketua Program Sarjana Sistem Informasi (PSSI) dan Feby Artwodini Muqtadiroh SKom MT selaku Sekretaris PSSI. Saat berkunjung ke kantor administrasi FTIf yang ada di lantai 3 Gedung Rektorat ITS tersebut, Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD selaku Rektor ITS juga berkesempatan untuk menemui para assessor dan melakukan audiensi formal. Di FTIf, kedua assessor BAN-PT tersebut melakukan penilaian validasi dan verifikasi atas Borang Fakultas.

Selanjutnya, seolah ingin menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, dua orang assessor tersebut lantas berbagi tugas. Dr Indra Budi SKom MKom masih terus melakukan assessment untuk Borang Fakultas di FTIf, sementara Prof Dr Ing Ir Iping Supriana Suwardi DEA bergegas menuju JSI ITS untuk melakukan agenda utamanya, yaitu penilaian validasi dan verifikasi atas PMSI JSI ITS. Didampingi oleh Ketua JSI ITS dan Ketua PMSI, pria kelahiran Bandung 13 Juni 1952 itu lantas menuju Jurusan yang terletak di sisi luar kanan ITS tersebut.

Setibanya di Jurusan termuda di bawah FTIf tersebut, Ketua Kelompok Keilmuan Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB ini menyempatkan untuk berkeliling terlebih dahulu melihat fasilitas akademik yang dimiliki oleh Prodi Magister Sistem Informasi JSI ITS, sebelum diterima secara resmi dalam acara assessment yang dilaksanakan bertempat di Ruang Sidang Lantai 2 JSI ITS. Turut menyambut dalam acara ini adalah para pimpinan di JSI ITS seperti Edwin Riksakomara SKom MT selaku Sekretaris Jurusan (Sekjur), Tony Dwi Susanto ST MT PhD selaku Presiden Association for Information Systems – Indonesia Chapter (AISINDO), Tjatwari Atisoendari SSos MSi selaku Kepala Subbagian Tata Usaha beserta para dosen dan tenaga kependidikan yang tergabung dalam tim kerja Akreditasi Prodi.

Dan assessment pun dimulai. Satu per satu standar penilaian ‘dibredel’. Mulai dari Standar 1 yang meliputi visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian. Standar 2 yang meliputi tata pamong,  kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu. Standar 3 meliputi mahasiswa dan lulusan, serta Standar 4 yang meliputi sumber daya manusia. Sementara Standar 5 meliputi kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik. Dan Standar 6 yang meliputi pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi hingga Standar 7 yang meliputi penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama. Ketujuh standar tersebut dengan masing-masing poin penilaian dilakukan proses validasi dan verifikasi-nya.

Dalam kesempatan tersebut juga, assessor juga tak lupa meminta sesi khusus secara terpisah untuk melakukan audiensi dengan para alumni PMSI JSI ITS. Bertempat di Ruang TC-102, beberapa alumni wakil dari berbagai tahun angkatan diundang khusus untuk menghadiri sesi bersama salah seorang assessor, termasuk juga dengan beberapa user wakil dari beberapa unit atau instansi yang menjadi pengguna lulusan PMSI JSI ITS. Assessor yang juga tercatat sebagai Guru Besar STEI ITB tersebut ingin mengetahui langsung potret kualitas output lulusan yang telah dihasilkan oleh Prodi yang baru berdiri sendiri di tahun 2014 ini.

Menjelang sore, acara visitasi assessment BAN-PT tersebut akhirnya rampung. Memungkasi keseluruhan rangkaiannya, dihasilkan beberapa feedback positif sebagai catatan dari para assessor yang disampaikan untuk PMSI JSI ITS. Hingga menunggu hasil resminya diumumkan kemudian, sebagai catatan, seperti pepatah “Tak ada gading yang tak retak” memang, bahwasanya diperlukan beberapa perbaikan demi mendekati kesempurnaan. Namun satu yang pasti, berbekal semangat keyakinan bahwa semuanya adalah demi tujuan untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang lebih baik kedepannya, sehingga takkan ada lagi menimbulkan keraguan di masyarakat untuk memilih pendidikan yang berkualitas. Semoga! (shi)

 


Raih Dua Juara Di Peringatan Hari Pahlawan : Torehan Manis Perjuangan Civitas Akademika JSI ITS Dalam SPMI ITS 2016

SURABAYA, JURUSAN SISTEM INFORMASI ITS – Tidak sia-sia perjuangan Tim Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Program Studi (Prodi) S-1 Jurusan Sistem Informasi (JSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Setelah bekerja keras mengerahkan fokus pikiran dan tenaga untuk menyiapkan isian online dan dokumen penunjang serta menghadapi penilaian langsung dari auditor, hasil yang cukup manis berhasil ditorehkan sebagai reward­-nya.

Dalam Upacara Bendera peringatan Hari Pahlawan yang bertepatan dengan tanggal perayaan Dies Natalis ITS ke-56 pada Kamis (10/11/2016) kemarin, diumumkan hasil para penerima penghargaan Program Studi Berkinerja Terbaik di lingkungan ITS. Hasil yang ditetapkan oleh Tim Adhoc SPMI ITS 2016 berdasarkan evaluasi terhadap isian online SPMI pada laman http://spmi.its.ac.id, Borang Prodi D-III, S-1 dan S-2 serta visitasi auditor.

Prodi di bawah Jurusan termuda pada Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS tersebut meraih Juara 2 untuk kategori Pendidikan Prodi S-1, mengalahkan salah satu Prodi tertua di ITS, yaitu Prodi Teknik Sipil. Prodi yang baru menginjak usianya yang kelimabelas di tahun 2016 ini sukses mengalahkan Prodi di bawah Jurusan Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS yang berusia lebih dari tiga kali lipatnya, saat didirikan di tahun 1957 yang menjadi embrio ITS saat ini. Sementara Prodi Teknik Industri pada Fakultas Teknologi Industri keluar sebagai Juara 1 untuk kategori ini.

Tak puas dengan itu, Prodi yang dikomandoi oleh Nisfu Asrul Sani SKom MSc selaku Ketua Prodi dan Feby Artwodini Muqtadiroh SKom MT selaku Sekretaris Prodi ini, juga keluar sebagai Juara 3 untuk ketegori Manajemen Prodi S-1, menjadi yang terbaik diantara yang terbaik bersama Prodi Teknik Kimia yang ada pada setingkat diatasnya, dan Prodi Teknik Informatika yang notabene adalah Prodi seniornya di bawah FTIf yang menyabet Juara 1.

Dalam hasil tersebut pula, diumumkan Prodi-Prodi juara lainnya seperti kategori Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) dan Kerjasama Prodi S-1 yang diraih oleh Prodi Teknik Lingkungan FTSP sebagai Juara 1-nya. Sementara Prodi Teknik Sipil kali ini unggul dengan menjadi Juara 1 kategori Prodi S-2, dan untuk Juara 1 kategori Prodi D-III diraih oleh Prodi Statistika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD menyerahkan secara simbolis penghargaan kepada para juara dalam kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya tersebut. Seusai membacakan Amanat Menteri Sosial Republik Indonesia dalam Upacara Bendera Peringatan Hari Pahlawan yang dilangsungkan di lapangan upacara ITS dan diikuti oleh jajaran pimpinan dan staf ITS, Rektor kelahiran Bandung pada 18 Juni 1960 tersebut memberikan ucapan selamat kepada perwakilan peraih Juara 1 untuk setiap kategori.

Menyambut prestasi yang diraih tersebut, Dr Ir Aris Tjahyanto MKom selaku Ketua Jurusan di JSI ITS menyatakan kegembiraannya. “Alhamdulillah, Jurusan kita dapat dua penghargaan. Terima kasih bagi semuanya,” ungkap pria kelahiran 10 Maret 1965 yang baru setahun menjabat sebagai orang nomor satu di JSI ITS tersebut. Kegembiraan yang sama juga dinyatakan oleh Edwin Riksakomara SKom MT selaku Sekretaris Jurusan di JSI ITS. “Alhamdulillah, Jurusan kita masih bisa “berbicara” di level ITS,” ungkap syukur pria kelahiran 25 Juli 1969 ini. “Penghargaan setinggi-tingginya untuk Tim SPMI yang bekerja keras menyiapkan Borang SPMI, matur nuwun,” tambahnya. (shi)