Tujuh Tahun ITS Konsisten Bina Siswa MA

SURABAYA, INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kian tegas mengokohkan Tridharma Perguruan Tinggi melalui berbagai bentuk pengabdian masyarakat. Salah satunya melalui Program Pendidikan Terapan Bidang Teknologi Informasi (Prodistik) untuk 28 Madrasah Aliyah (MA) di Jawa Timur dan Kalimantan. Kegiatan ini sendiri sudah terlaksana selama tujuh tahun.

Dalam program ini, ITS membantu mendidik siswa-siswi MA untuk menguasai bidang robotika, desain grafis, dan sinematografi selama lima semester," ungkap Bekti Cahyo Hidayanto SSi MKom, dosen pendamping Prodistik.

Bekti, sapaan akrabnya, menerangkan bahwa ITS sengaja menyasar pada sekolah-sekolah di daerah terpencil yang kekurangan sumber daya pendidik. "Sebagai bukti bahwa ITS mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat" lanjut dosen Departemen Sistem Informasi ITS ini. 

"Kami para dosen pengajar datang ke sekolah-sekolah tersebut untuk membina guru-guru serta mengadakan kuliah tamu untuk para siswa. Hal tersebut konsisten kami lakukan selama tujuh tahun ini," terang Bekti. Lelaki berkacamata yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Infrastruktur dan Keamanan Teknologi Informasi pada Departemen SIstem Informasi ITS ini pun menambahkan, di akhir program para siswa akan diberi tugas akhir serta mendapat sertifikat kelulusan.

Untuk mengikuti program ini, sekolah-sekolah tersebut mengajukan proposal pada pihak ITS terlebih dahiulu. Selanjutnya tim Prodistik akan melakukan kunjungan untuk menentukan apakah sarana prasarana di sekolah tersebut mendukung program ini agar dapat berjalan maksimal. Seperti sarana komputer, ketersediaan jaringan internet, dan lain-lain.

"Tiap tahunnya kami menerima tiga sekolah binaan baru" ujar Kepala Laboratorium Pemrograman Sistem Informasi tersebut. Tahun ini, sekolah binaan yang resmi bergabung adalah MA Islamiyah Senori Tuban, SMA Muhammadiyah 1 Gresik, serta MAN Model Palangkaraya.

Salah satu hal yang menarik dari program ini adalah diadakannya Prodistik Competition for Madrasah in IT (Procommit) tiap tahunnya. Procommit merupakan ajang adu kreasi dari ilmu yang telah didapatkan siswa selama program pelatihan. 

"Tahun ini Procommit membawahi enam jenis lomba yaitu excel programming, desain batik digital, film pendek, animasi interaktif, robot cerdas, dan sayembara logo Prodistik. Keseluruhannya diiikuti oleh 294 tim dari 28 sekolah," tutup Bekti yang juga menjadi juri Sayembara Logo Prodistik Procommit 2016 ini. (io1/hil)

Sumber : www.its.ac.id

 


Arti Penting Sebuah Status : Cerita Visitasi Assessor Akreditasi BAN-PT Ke PMSI JSI ITS

SURABAYA, JURUSAN SISTEM INFORMASI ITS – Sedang bimbang untuk menentukan tempat studi lanjut? Sudah menemukan Program Studi (Prodi) yang sesuai dengan keinginan hati, namun ternyata banyak pilihan diantara sekian banyak institusi pendidikan tinggi yang menawarkan Prodi yang sejenis? Sebagai ilustrasi, diantara perguruan tinggi A atau B atau bahkan C yang menjadi institusi-institusi pendidikan tinggi yang menjadi pilihan, diantara ketiganya manakah yang akan kita pilih?

Berbagai hal memang bisa menjadi pertimbangan, namun satu hal yang akan memudahkan pengambilan keputusan untuk ilustrasi diatas tentu saja dengan melihat status peringkat akreditasi Prodi yang hendak kita pilih, apakah termasuk dalam peringkat A (bagus), B (baik) ataukah C (cukup)?

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi). Akreditasi sebagai suatu bentuk standardisasi sangat diperlukan untuk ukuran tentang mutu pendidikan pada suatu lembaga pendidikan perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi harus bisa meningkatkan mutu dan daya saing terhadap lulusannya dan dapat menjamin tentang proses belajar mengajar yang dilaksanakannya. Sehingga benar bahwasanya akreditasi akan menentukan mutu dan kualitas dari pendidikan, dalam hal ini adalah akreditasi yang diperoleh dari Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT) sebagai satu-satunya badan akreditasi yang diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia saat ini.

Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan akreditasi terhadap pengelolaan dan hasil pendidikan tinggi, BAN-PT melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap keseluruhan aspek yang dijalankan oleh suatu institusi pendidikan tinggi.

Dan dalam pelaksanaannya, mewakili BAN-PT dalam penilaian Prodi, kegiatan akreditasi ini dilakukan oleh assessor yang terdiri dari tenaga pakar pada bidang ilmu, bidang studi, profesi, dan atau praktisi melalui dua tahap penilaian yaitu desk evaluation untuk penilaian terhadap Borang dan atau portfolio yang disampaikan beserta lampiran-lampirannya serta visitasi yang berupa penilaian di lapangan untuk validasi dan verifikasi hasil desk evaluation tersebut.

Hasil penilaian akreditasi akan menjadi acuan untuk memberikan informasi tentang sudah siapnya suatu instansi perguruan tinggi tersebut dalam melakukan kegiatan proses belajar mengajar sesuai standarisasi yang diberikan oleh pemerintah (dalam hal ini Kemendikbud) dalam tahap proses pendidikan untuk daya saing secara global di masa mendatang. Sehingga, saat akreditasi menjadi sebuah dasar dan patokan untuk memilih sebuah institusi pendidikan, maka akreditasi ini pun memiliki arti yang begitu penting.

Menganggap betapa pentingnya akreditasi ini, Prodi Magister Sistem Informasi (PMSI) yang kini di bawah naungan Jurusan Sistem Informasi (JSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berusaha untuk all out. Sesaat setelah dokumen Borang diserahkan ke BAN-PT sekitar bulan Oktober 2016 lalu, hingga mendapat kepastian untuk jadwal visitasi assessor pada bulan November 2016, persiapan tak kenal henti dilakukan oleh Prodi yang baru berdiri sendiri lepas dari yang semula hanyalah Bidang Keahlian pada Prodi Magister Teknik Informatika ITS tersebut. Ketua PMSI JSI ITS, Dr Apol Pribadi Subriadi ST MT memimpin langsung pembentukan tim kerja beranggotakan para dosen yang menjadi person in charge (PIC) setiap standar penilaian dan para tenaga kependidikan yang menyiapkan dokumen-dokumen sebagai bukti fisik penilaiannya.

Dan hari visitasi itupun tiba. Kamis (17/11/2016), dua orang assessor BAN-PT berkunjung langsung ke PMSI JSI ITS. Adalah Prof Dr Ing Ir Iping Supriana Suwardi DEA dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Dr Indra Budi SKom MKom dari Universitas Indonesia (UI) yang ditugaskan oleh BAN-PT untuk melakukan penilaian validasi dan verifikasi.

Dimulai dari kunjungan ke Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS sebagai Fakultas tempat PMSI JSI bernaung. Dua orang assessor BAN-PT tersebut diterima langsung oleh Dr Agus Zaenal Arifin SKom MKom selaku Dekan, Erma Suryani ST MT PhD selaku Wakil Dekan dan Drs Ec Mochammad Takrip selaku Kepala Bagian Tata Usaha. Mewakili JSI ITS sebagai Jurusan tempat PMSI berada, Dr Ir Aris Tjahyanto MKom selaku Ketua Jurusan (Kajur) dan Dr Apol Pribadi Subriadi ST MT selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) ikut pula menyambut bersama Nisfu Asrul Sani SKom MSc selaku Ketua Program Sarjana Sistem Informasi (PSSI) dan Feby Artwodini Muqtadiroh SKom MT selaku Sekretaris PSSI. Saat berkunjung ke kantor administrasi FTIf yang ada di lantai 3 Gedung Rektorat ITS tersebut, Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD selaku Rektor ITS juga berkesempatan untuk menemui para assessor dan melakukan audiensi formal. Di FTIf, kedua assessor BAN-PT tersebut melakukan penilaian validasi dan verifikasi atas Borang Fakultas.

Selanjutnya, seolah ingin menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu, dua orang assessor tersebut lantas berbagi tugas. Dr Indra Budi SKom MKom masih terus melakukan assessment untuk Borang Fakultas di FTIf, sementara Prof Dr Ing Ir Iping Supriana Suwardi DEA bergegas menuju JSI ITS untuk melakukan agenda utamanya, yaitu penilaian validasi dan verifikasi atas PMSI JSI ITS. Didampingi oleh Ketua JSI ITS dan Ketua PMSI, pria kelahiran Bandung 13 Juni 1952 itu lantas menuju Jurusan yang terletak di sisi luar kanan ITS tersebut.

Setibanya di Jurusan termuda di bawah FTIf tersebut, Ketua Kelompok Keilmuan Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB ini menyempatkan untuk berkeliling terlebih dahulu melihat fasilitas akademik yang dimiliki oleh Prodi Magister Sistem Informasi JSI ITS, sebelum diterima secara resmi dalam acara assessment yang dilaksanakan bertempat di Ruang Sidang Lantai 2 JSI ITS. Turut menyambut dalam acara ini adalah para pimpinan di JSI ITS seperti Edwin Riksakomara SKom MT selaku Sekretaris Jurusan (Sekjur), Tony Dwi Susanto ST MT PhD selaku Presiden Association for Information Systems – Indonesia Chapter (AISINDO), Tjatwari Atisoendari SSos MSi selaku Kepala Subbagian Tata Usaha beserta para dosen dan tenaga kependidikan yang tergabung dalam tim kerja Akreditasi Prodi.

Dan assessment pun dimulai. Satu per satu standar penilaian ‘dibredel’. Mulai dari Standar 1 yang meliputi visi, misi, tujuan dan sasaran, serta strategi pencapaian. Standar 2 yang meliputi tata pamong,  kepemimpinan, sistem pengelolaan, dan penjaminan mutu. Standar 3 meliputi mahasiswa dan lulusan, serta Standar 4 yang meliputi sumber daya manusia. Sementara Standar 5 meliputi kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik. Dan Standar 6 yang meliputi pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sistem informasi hingga Standar 7 yang meliputi penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama. Ketujuh standar tersebut dengan masing-masing poin penilaian dilakukan proses validasi dan verifikasi-nya.

Dalam kesempatan tersebut juga, assessor juga tak lupa meminta sesi khusus secara terpisah untuk melakukan audiensi dengan para alumni PMSI JSI ITS. Bertempat di Ruang TC-102, beberapa alumni wakil dari berbagai tahun angkatan diundang khusus untuk menghadiri sesi bersama salah seorang assessor, termasuk juga dengan beberapa user wakil dari beberapa unit atau instansi yang menjadi pengguna lulusan PMSI JSI ITS. Assessor yang juga tercatat sebagai Guru Besar STEI ITB tersebut ingin mengetahui langsung potret kualitas output lulusan yang telah dihasilkan oleh Prodi yang baru berdiri sendiri di tahun 2014 ini.

Menjelang sore, acara visitasi assessment BAN-PT tersebut akhirnya rampung. Memungkasi keseluruhan rangkaiannya, dihasilkan beberapa feedback positif sebagai catatan dari para assessor yang disampaikan untuk PMSI JSI ITS. Hingga menunggu hasil resminya diumumkan kemudian, sebagai catatan, seperti pepatah “Tak ada gading yang tak retak” memang, bahwasanya diperlukan beberapa perbaikan demi mendekati kesempurnaan. Namun satu yang pasti, berbekal semangat keyakinan bahwa semuanya adalah demi tujuan untuk mewujudkan pendidikan tinggi yang lebih baik kedepannya, sehingga takkan ada lagi menimbulkan keraguan di masyarakat untuk memilih pendidikan yang berkualitas. Semoga! (shi)

 


Raih Dua Juara Di Peringatan Hari Pahlawan : Torehan Manis Perjuangan Civitas Akademika JSI ITS Dalam SPMI ITS 2016

SURABAYA, JURUSAN SISTEM INFORMASI ITS – Tidak sia-sia perjuangan Tim Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Program Studi (Prodi) S-1 Jurusan Sistem Informasi (JSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Setelah bekerja keras mengerahkan fokus pikiran dan tenaga untuk menyiapkan isian online dan dokumen penunjang serta menghadapi penilaian langsung dari auditor, hasil yang cukup manis berhasil ditorehkan sebagai reward­-nya.

Dalam Upacara Bendera peringatan Hari Pahlawan yang bertepatan dengan tanggal perayaan Dies Natalis ITS ke-56 pada Kamis (10/11/2016) kemarin, diumumkan hasil para penerima penghargaan Program Studi Berkinerja Terbaik di lingkungan ITS. Hasil yang ditetapkan oleh Tim Adhoc SPMI ITS 2016 berdasarkan evaluasi terhadap isian online SPMI pada laman http://spmi.its.ac.id, Borang Prodi D-III, S-1 dan S-2 serta visitasi auditor.

Prodi di bawah Jurusan termuda pada Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS tersebut meraih Juara 2 untuk kategori Pendidikan Prodi S-1, mengalahkan salah satu Prodi tertua di ITS, yaitu Prodi Teknik Sipil. Prodi yang baru menginjak usianya yang kelimabelas di tahun 2016 ini sukses mengalahkan Prodi di bawah Jurusan Teknik Sipil pada Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) ITS yang berusia lebih dari tiga kali lipatnya, saat didirikan di tahun 1957 yang menjadi embrio ITS saat ini. Sementara Prodi Teknik Industri pada Fakultas Teknologi Industri keluar sebagai Juara 1 untuk kategori ini.

Tak puas dengan itu, Prodi yang dikomandoi oleh Nisfu Asrul Sani SKom MSc selaku Ketua Prodi dan Feby Artwodini Muqtadiroh SKom MT selaku Sekretaris Prodi ini, juga keluar sebagai Juara 3 untuk ketegori Manajemen Prodi S-1, menjadi yang terbaik diantara yang terbaik bersama Prodi Teknik Kimia yang ada pada setingkat diatasnya, dan Prodi Teknik Informatika yang notabene adalah Prodi seniornya di bawah FTIf yang menyabet Juara 1.

Dalam hasil tersebut pula, diumumkan Prodi-Prodi juara lainnya seperti kategori Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) dan Kerjasama Prodi S-1 yang diraih oleh Prodi Teknik Lingkungan FTSP sebagai Juara 1-nya. Sementara Prodi Teknik Sipil kali ini unggul dengan menjadi Juara 1 kategori Prodi S-2, dan untuk Juara 1 kategori Prodi D-III diraih oleh Prodi Statistika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD menyerahkan secara simbolis penghargaan kepada para juara dalam kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya tersebut. Seusai membacakan Amanat Menteri Sosial Republik Indonesia dalam Upacara Bendera Peringatan Hari Pahlawan yang dilangsungkan di lapangan upacara ITS dan diikuti oleh jajaran pimpinan dan staf ITS, Rektor kelahiran Bandung pada 18 Juni 1960 tersebut memberikan ucapan selamat kepada perwakilan peraih Juara 1 untuk setiap kategori.

Menyambut prestasi yang diraih tersebut, Dr Ir Aris Tjahyanto MKom selaku Ketua Jurusan di JSI ITS menyatakan kegembiraannya. “Alhamdulillah, Jurusan kita dapat dua penghargaan. Terima kasih bagi semuanya,” ungkap pria kelahiran 10 Maret 1965 yang baru setahun menjabat sebagai orang nomor satu di JSI ITS tersebut. Kegembiraan yang sama juga dinyatakan oleh Edwin Riksakomara SKom MT selaku Sekretaris Jurusan di JSI ITS. “Alhamdulillah, Jurusan kita masih bisa “berbicara” di level ITS,” ungkap syukur pria kelahiran 25 Juli 1969 ini. “Penghargaan setinggi-tingginya untuk Tim SPMI yang bekerja keras menyiapkan Borang SPMI, matur nuwun,” tambahnya. (shi)


Leonika Sari, Gagas Aplikasi Reblood, Selamatkan Nyawa Berbekal TI

 

Leonika Sari Njoto Boedioetomo menuangkan kepedulian sosialnya lewat kemampuan teknologi. Dia membuat aplikasi yang mempermudah proses donor darah. Kiprahnya membuat dia masuk daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 Asia.

TIDAK banyak orang yang tahu prosedur mendonorkan darah. Padahal, kegiatan itu memiliki banyak manfaat. Selain mampu menolong nyawa orang lain, mendonorkan darah berguna untuk kesehatan diri sendiri. Leo melihat hal itu sebagai masalah dan berinovasi untuk memecahkannya.

Alumnus Jurusan Sistem Informasi Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya tersebut adalah orang di balik Reblood, sebuah aplikasi yang berisi segala hal tentang donor darah. Perempuan kelahiran 18 Agustus 1993 itu juga memberikan poin plus bagi pengguna aplikasinya.

Dia pun mengonsepkan dengan sistem penambahan poin layaknya game bagi donor yang sudah menyumbangkan darahnya. Jumlah poin nanti bisa ditukarkan dengan hadiah atau reward yang sudah ditentukan. ”Jadi, unsur sosialnya ada, fun-nya juga ada,” jelas Leo saat ditemui di Forward Factory Surabaya.

Sebelum merilis Reblood tahun lalu, Leo dan beberapa temannya memiliki ide membuat aplikasi donor darah. Namun, saat itu belum berkembang dengan baik. Leo sendiri sudah mendalami entrepreneurship dengan mengikuti online course oleh edX, sebuah kursus bisnis online yang diadakan Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Setelah mendapatkan beasiswa, Leo mengikuti Global Entrepreneurship Bootcamp di MIT pada Agustus 2014. Selama seminggu, Leo kembali belajar untuk memantapkan ide bisnis dan aplikasi donor darahnya. ”Saya jadi tahu bahwa ide aplikasi blood bank information system yang saya buat masih harus disempurnakan lagi,” ujarnya.

Pulang dari bootcamp, anak tunggal itu melakukan riset ke PMI dan Kementerian Kesehatan Indonesia. Dari situ, Leo tahu bahwa Indonesia sering kekurangan stok kantong darah dalam jumlah jutaan. ”Bahkan, dari Kemenkes, saya mendapat data bahwa pada 2013 Indonesia sampai kekurangan 2,4 juta kantong darah per tahun,” ujar Leo.

Permasalahan itu dibawanya ke Start-Up Surabaya, sebuah program untuk pebisnis muda yang mau memulai karir entrepreneur-nya. Di situ, Leo diajari tentang mencari penyebabnya. ”Saya diajak berpikir, kenapa dari 250 jutaan penduduk Indonesia, ada kekurangan stok darah sebanyak itu,” jelas Leo yang mengikuti Start-Up Surabaya pada Agustus 2015.

Sekali lagi, riset dan survei dilakukan Leo dan rekan. Hasilnya diketahui bahwa minimnya informasi tentang proses dan kegiatan donor darah menjadi penyebab kurangnya stok darah di PMI. ”Dari situ, kami konsep ulang aplikasi. Kami tambahkan berbagai informasi tentang manfaat, kepentingan, hingga pengumuman mengenai event pendonoran darah beserta tempat dan waktunya,” jelas Leo.

Dengan aplikasi itu, calon donor yang sudah memiliki akun pun mendapat reminder. ’’Tujuannya, mereka nggak lupa dan bisa mempersiapkan diri. Misalnya, istirahat cukup dan sarapan. Jadi, saat menjalani tes kesehatan sebelum mendonorkan darah, mereka bisa lolos dan menyumbangkan darahnya,” ujar Leo. Selain itu, donor mendapat pemahaman yang lengkap dan detail. ”Misalnya, penjelasan tentang kaitan donor darah dan kesehatan, lalu tip menjaga kondisi menjelang mendonorkan darah, hingga fakta penting lain,” tambah Leo.

Reblood juga sering menggelar sesi donor darah. Kantong darah yang terkumpul diserahkan ke PMI. Dengan Reblood, Leo merasa berhasil melakukan dua hal sekaligus. ”Saya bisa campaign tentang donor darah sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial masyarakat,” ujarnya.

Tercapai sudah keinginannya untuk menggunakan teknologi sebagai hal yang memudahkan layanan kesehatan dan bahkan menyelamatkan nyawa orang. ”Saya tidak harus jadi dokter. Dengan berbekal ilmu dan latar belakang TI (teknologi informasi) pun, saya bisa melayani kebutuhan kesehatan,” tambahnya. (ayi)

Sumber : Jawa Pos


Mahasiswa ITS Raih Gelar Inspiring Leader

SURABAYA, INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER - Semangat untuk terus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya mendorong dua mahasiswa ITS, Irfanda Odytia dan Nanda Puji Nugroho, mendaftarkan diri dalam ajang Nutrifood Leadership Award. Tak sia-sia, setelah bersaing ketat dengan ribuan mahasiswa seluruh Indonesia, keduanya pun resmi menyandang gelar Inspiring Leader, Senin (7/11) lalu.

Dijelaskan Irfanda, Nutrifood Leadership Award merupakan penghargaan bagi mahasiswa Indonesia yang memiliki potensi dalam bidang kepemimpinan. Meraihnya pun bukan perkara mudah. Ia dan Nanda harus melewati serangkaian proses seleksi, mulai dari seleksi berkas, audisi, Focus Group Discussion (FGD), hingga wawancara langsung dengan CEO Nutrifood.

"Saat audisi kami bermain beberapa leadership game dan diminta berpidato, jadi seperti pemilihan Putri Indonesia," jelas Irfanda seraya tertawa.

Proses seleksi panjang tersebut menghasilkan sepuluh mahasiswa yang dianugerahi gelar Inspiring Leader. Hebatnya, hanya ITS yang berhasil mengirim wakil lebih dari satu orang. "Dari ITS, hanya saya dan Nanda yang lolos ke tahap FGD dan alhamdulillah menang semua," ujar mahasiswa Teknik Industri ini.

Atas penghargaan tersebut, Irfanda dan Nanda pun berhak memperoleh kesempatan melakukan leadership adventure selama tiga hari ke suatu daerah di Indonesia guna mempelajari warisan budaya setempat. Bersama timnya, Irfanda mengunjungi Desa Nelayan Tanjung Binga Belitung.

Dalam kunjungannya, Irfanda sempat melakukan pengajaran kreatif dengan beberapa siswa sekolah dasar di Tanjung Binga. "Kami juga sempat berdiskusi dengan warga setempat. Hasilnya, kami akhirnya berinisiatif membangun sebuah tempat iconic di desa nelayan tersebut untuk meningkatkan daya tarik wisata desa," tutur mahasiswa asal Palembang ini.

Perjalanan tersebut, lanjut Irfanda, memberinya pelajaran untuk senantiasa bersyukur dan menyadari bahwa pemuda memiliki peran sangat penting bagi lingkungannya. "Selan itu, kami juga belajar tentang pentingnya menghargai budaya, layaknya pepatah dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung," tutupnya.

Nanda Raih Most Inspiring Group

Sementara itu, Nanda berkesempatan mengunjungi Suku Boti, sebuah suku pedalaman di wilayah Nusa Tenggara Timur. Diceritakan Nanda, karena budaya yang masih dijaga dengan baik, Suku Boti sejatinya memililki potensi wisata yang besar. "Namun, sayangnya disana belum ada penerangan saat malam hari," ungkap mahasiswa Departemen Sistem Informasi ITS Angkatan 2013 ini.

Nanda dan timnya pun membangun sebuah proyek yang dinamai "Cahaya Untuk Boti." Mereka mengimplementasikan teknologi solar panel sehingga cahaya matahari di siang hari dapat dimanfaatkan untuk penerangan saat malam.

"Kami juga mewujudkan glowing forest yaitu membuat hutan disana indah saat malam hari, sehingga bisa menjadi daya tarik wisata pula," jelas Nanda. Tak ayal, proyek tersebut mengantarkan Nanda dan timnya sebagai tim paling menginspirasi dalam Inspiring Adventure tahun ini. (ayi/hil)

Sumber : www.its.ac.id